Mengungkap Asal Usul Pancuran 13 Guci Tegal dan Kisah Pangeran Sutra Wijaya
PANCURAN 13 - Asal usul Pancuran 13 Guci Tegal erat kaitannya dengan kisah Pageran Sutra Wijaya dan Sunan Gunung Jati.-Yeri Noveli/Radar Tegal Grup-
BUMIJAWA, radartegal.com - Pacuran 13 Guci Tegal saat ini sedang menjadi sorotan banyak pihak, salah satunya terkait tiket masuk yang dinilai memberatkan. Lantas seperti apa sebenarnya asal usul Pancuran 13 Guci Tegal dan kisah Pangeran Sutra Wijaya?
Kabut tipis turun perlahan di lereng Gunung Slamet, membalut Desa Guci Kabupaten Tegal dengan udara dingin yang menusuk tulang. Namun, di balik hawa sejuk pegunungan itu, mengalir air panas yang sejak ratusan tahun lalu dipercaya menyimpan karomah.
Pancuran 13 Guci bukan sekadar destinasi wisata, melainkan tapak sejarah panjang yang berakar dari kisah para leluhur.
Asal Muasal Pancuran 13 Guci
Ketua Masyarakat Adat Reksawana Guci, Sobirin (52), menuturkan bahwa asal usul Pancuran 13 Guci bermula dari sebuah sayembara besar yang digelar Kanjeng Sunan Gunung Jati.
BACA JUGA:Atasi Pasar Tumpah, Pemkab Tegal Identifikasi Penataan Pedagang di Pasar Bumijawa
Sayembara tersebut bertujuan menaklukkan Keris Naga Runting, pusaka sakti yang diyakini tak mampu dijinakkan oleh sembarang orang.
“Banyak pendekar dari berbagai daerah, bahkan dari mancanegara, ikut dalam sayembara itu. Namun yang berhasil justru seorang ksatria dari Indramayu, Jawa Barat, bernama Pangeran Sutra Wijaya,” tutur Sobirin, warga RT 02 RW 01 Desa Guci, Senin, 19 Januari 2026.
Pangeran Sutra Wijaya merupakan putra Pangeran Indrajaya dan Dharma Ayu. Setelah berhasil menaklukkan Keris Naga Runting, ia tidak lantas berhenti menimba ilmu.
Sunan Gunung Jati justru mengutusnya untuk menyempurnakan laku spiritual dengan berguru di lereng Gunung Slamet, wilayah yang kini dikenal sebagai Desa Guci, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal.
BACA JUGA:Edukasi Humanis, Satlantas Polres Tegal Beri Teguran Simpatik saat Siyanma Pagi di Slawi
Di tanah inilah, menurut kisah yang diwariskan secara turun-temurun, Pangeran Sutra Wijaya berguru kepada Ki Semar, Eyang Slamet, serta Mbah Gede Roh Kidul, yang dipercaya sebagai danyang atau penguasa spiritual Gunung Slamet.
Guci Beri Air Bekal Pangeran Sutra Wijaya
Setelah dinyatakan lulus, Sunan Gunung Jati membekali Pangeran Sutra Wijaya sebuah guci berisi air. Air tersebut kemudian disiramkan ke sumber mata air Tuk Agung atas perintah Ki Semar, Eyang Slamet dan Mbah Gede Roh Kidul, didahului ritual khusus oleh para guru spiritualnya.
“Air itu bukan air biasa. Setelah disiramkan, sumber mata air yang semula dingin mendadak berubah menjadi panas. Bahkan panasnya berbeda-beda, ada yang sangat panas, hangat, dan tetap dingin,” jelas Sobirin.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
