Nasi Tiwul Gunungkidul, Kuliner Tradisional yang Kembali Tren di 2025
Nasi Tiwul khas Gunungkidul, kuliner tradisional yang kembali diminati masyarakat dan wisatawan yang berkunjung ke Jogja.-ISTIMEWA/radartegal.com-
Radartegal.com - Gunungkidul, salah satu kabupaten di Daerah Istimewa Yogyakarta, tak hanya dikenal karena keindahan pantai-pantainya yang memesona, tetapi juga karena kekayaan kulinernya.
Salah satu yang paling ikonik adalah nasi tiwul khas Gunungkidul, makanan tradisional berbahan dasar singkong yang dulu dianggap sebagai makanan masa sulit.
Namun, memasuki tahun 2025, nasi tiwul khas Gunungkidul justru kembali naik daun dan menjadi salah satu kuliner lokal yang paling dicari wisatawan domestik maupun mancanegara.
Nasi tiwul khas Gunungkidul kini tidak hanya sekadar menu rumahan, melainkan bagian dari identitas kuliner yang membawa pesan sejarah dan ketahanan pangan masyarakat Gunungkidul.
BACA JUGA: Langganan Pak Jokowi? Kuliner Malam di Solo Ini Belum Banyak Dikenal Food Blogger
BACA JUGA: Rekomendasi 4 Kuliner Lezat Khas Purwokerto, Rasanya Bikin Pengen Balik Lagi!
Asal-usul Nasi Tiwul
Nasi tiwul memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat Gunungkidul. Pada masa lampau, terutama saat daerah tersebut masih sering dilanda kekeringan dan sulit menanam padi, singkong menjadi bahan pangan utama.
Singkong yang dikeringkan menjadi gaplek kemudian diolah menjadi butiran kecil menyerupai nasi, yang dikenal dengan nama “tiwul”.
Dulu, tiwul dianggap sebagai makanan darurat karena dikonsumsi saat beras sulit didapat. Namun kini, makna itu telah berubah.
Tiwul menjadi simbol kemandirian dan kearifan lokal. Ia membuktikan bahwa masyarakat mampu beradaptasi dengan kondisi alam tanpa kehilangan cita rasa dan nilai gizi.
BACA JUGA: Rekomendasi 3 Tempat Makan Enak di Pekalongan, Surga Kuliner dengan Cita Rasa Khas Pesisir
BACA JUGA: 7 Kuliner Enak Dekat Alun-alun Kajen yang Wajib Dicoba, Rasanya Mantul Banget!
Proses Pembuatan Tiwul yang Tetap Dipertahankan
Meski teknologi pangan semakin maju, banyak masyarakat Gunungkidul masih mempertahankan cara tradisional dalam membuat tiwul.
Prosesnya dimulai dengan mengupas singkong, menjemurnya hingga kering menjadi gaplek, lalu digiling menjadi tepung. Tepung tersebut kemudian diolah menjadi butiran halus dan dikukus hingga matang.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

