Sharp Giga Fest

Festival Literasi Pemalang 2026: Belajar Toleransi dari Sejarah Sarajevo

Festival Literasi Pemalang 2026: Belajar Toleransi dari Sejarah Sarajevo

BEDAH BUKU - Festival Literasi Kabupaten Pemalang 2026 ditutup dengan Bedah Buku.-Disway Jateng/Radar Tegal Grup-

PEMALANG, radartegal.com - Rangkaian Festival Literasi Kabupaten Pemalang 2026 resmi berakhir pada Selasa, 4 Agustus 2026 di GOR Kridanggo, Pemalang. Penutupan agenda tahunan ini ditandai dengan bedah buku Simfoni Tiga Peradaban di Eropa karya Dr. Mahendra yang disambut antusias oleh ratusan pelajar SMP dan SMA se-Kabupaten Pemalang.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dinperpuska) Kabupaten Pemalang sebagai wadah untuk menguatkan ekosistem literasi daerah. Selain itu, ajang ini menjadi langkah strategis pemerintah setempat dalam memperkenalkan fasilitas serta layanan Perpustakaan Daerah kepada generasi muda.

Mendorong Daya Kritis Pelajar Lewat Budaya Membaca

Kepala Bidang Perpustakaan Dinperpuska Pemalang, Edi Sutriyono, menjelaskan bahwa sasaran utama festival ini adalah para pelajar tingkat menengah. Pihaknya berupaya menumbuhkan tradisi membaca dan berpikir kritis sejak dini melalui pendekatan yang interaktif.

"Melalui ajang ini, kami ingin menumbuhkan minat baca dan daya kritis generasi muda. Sekaligus memancing para pelajar agar rajin berkunjung ke perpustakaan," ungkap Edi.

BACA JUGA:Usut Kasus Bupati Pemalang, KPK Geledah Rumah Dua Kepala OPD

BACA JUGA:RSU Comal Baru Pemalang Hadirkan Layanan Kesehatan Lengkap, Ramah, dan Profesional untuk Masyarakat

Ia menambahkan, kunjungan aktif ke perpustakaan akan memperluas wawasan siswa di luar materi sekolah formal. Pihaknya berharap perpustakaan dapat menjadi ruang inklusif bagi pemuda untuk berdiskusi dan mengembangkan potensi diri.

Pelajaran Toleransi dari Sejarah Sarajevo

Buku Simfoni Tiga Peradaban di Eropa yang dibedah pada acara penutupan memuat narasi mendalam tentang kehidupan sosial di Sarajevo, ibu kota Bosnia dan Herzegovina. Kota di wilayah Balkan ini dipandang memiliki kemiripan konteks sosial dengan Indonesia dalam hal keberagaman suku, agama, dan budaya.

Melalui ulasan karya tersebut, Edi menekankan pentingnya menjaga nilai toleransi di tengah masyarakat yang majemuk. Sejarah kelam dinamika sosial di kawasan Balkan menjadi pembelajaran berharga bagi bangsa Indonesia agar terus merawat persatuan.

"Lewat buku ini, kita bisa belajar dari bangsa lain sekaligus melihat besarnya potensi negara kita. Perbedaan yang tidak dikelola dengan baik bisa memicu konflik, seperti Perang Bosnia 1992–1995. Karena itu, nilai toleransi dan persatuan harus terus dipupuk," tambahnya.

BACA JUGA:Lewat Literasikita, Pemkab Brebes Perkuat Layanan Perpustakaan Digital

BACA JUGA:Bus Perpustakaan Keliling Soetta Diserbu Siswa SD di Tegal, Bawa Misi Pemerataan Literasi Desa

Resep Menulis Menjadi Buku dari Media Sosial

Pada kesempatan yang sama, Dr. Mahendra membagikan pengalaman pribadinya dalam merintis karier sebagai penulis. Ia menceritakan bahwa proses kreatif buku Simfoni Tiga Peradaban di Eropa berawal dari kebiasaan mencatat pengalaman di berbagai platform digital.

Sepanjang tahun 2019 hingga 2022, Mahendra aktif mengunggah tulisan ringkas serta dokumentasi di jejaring blog, Facebook, Instagram, hingga platform YouTube. Kumpulan rekam jejak digital tersebut kemudian menarik perhatian pihak penerbit hingga akhirnya dibukukan secara resmi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: