Geliat Sastra Pesisir: Sastrawan Tegal Unjuk Gigi di Taman Ismail Marzuki Jakarta
TAMPIL - Acara bertajuk “Desir Sastra Pesisir” berlangsung di Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Sejumlah sastrawan Tegal nglurug membawakan karya.-K. Anam Syahmadani/Radar Tegal Grup-
TEGAL, radartegal.com - Ekosistem kesenian dari kawasan pesisir Jawa Tengah berekspansi ke ibu kota. Dewan Kesenian Kota Tegal (DKT) memboyong puluhan seniman dan sastrawan untuk menggelar pertunjukan bertajuk “Desir Sastra Pesisir” di Pusat Dokumentasi Sastra (PDS) HB Jassin, Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta.
Agenda yang berlangsung pada Sabtu (1/8/2026) ini menjadi ajang pembuktian serta ruang dialog antara komunitas sastra pesisir Tegal dengan penikmat seni di Jakarta.
Kegiatan ini terwujud atas kolaborasi antara Akademi Sebermuka Jakarta, Perpustakaan Jakarta-PDS HB Jassin, serta Dewan Kesenian Kota Tegal.
Menampilkan Karya Otentik Sastra Pesisir
Sebanyak 100 penonton yang didominasi generasi muda dan sastrawan senior Jakarta memadati lokasi acara. Mereka menyaksikan secara langsung pemaparan sejarah, pementasan drama, hingga pembacaan puisi khas Kota Bahari.
BACA JUGA:Angkat Warteg ke Panggung Sastra, 105 Penyair Indonesia Berkumpul di Tegal
BACA JUGA:Kota Tegal dan Jejak Panjang Sastra: Ekosistem Budaya Pesisir yang Melahirkan Sastrawan Nasional
Rangkaian acara dibuka dengan pembacaan esai sejarah kesenian Tegal karya Suriali Andi Kustomo oleh Ida Fitri Yuzmanah. Pembacaan esai tersebut sekaligus mengawali alur pementasan seni yang dinamis.
Aksi dramatis disuguhkan oleh aktor Rias Viri yang membawakan cerita pendek karya SN Ratmana berjudul Sepi Tanpa Tepi lewat perpaduan audio visual dan gaya teatrikal.
Suasana panggung semakin semarak saat pembacaan puisi karya Nurhidayat Poso dan puisi pribadi dibawakan oleh Bontot Sukandar. Penyair Iwang Nirwana turut menyumbangkan aksinya dengan membacakan karya Enthieh Mudakir serta puisinya sendiri.
Jejak Kesejarahan dan Penguatan Identitas Kota Pecinta Sastra
Pada sesi diskusi yang dipandu Ubaidillah, Ketua DKT Suriali Andi Kustomo memaparkan perjalanan panjang sastra Tegal sejak dekade 1950-an. Sejarah tersebut melahirkan tokoh-tokoh penting seperti penyair Angkatan '66 Piek Ardijanto Soeprijadi dan sastrawan SN Ratmana.
BACA JUGA:Ketua DPRD Jateng Sumanto Dorong Pelaku Kesenian Tradisional Adaptif dan Inovatif
BACA JUGA:Dorong Perdes 'Nanggap' Kesenian Tradisional, Ketua DPRD Sumanto: Nguri-uri Budaya
Andi menjelaskan peran vital komunitas seperti Studi Grup Sastra Tegal (SGST), gerakan Dari Negeri Poci (DNP), hingga konsistensi DKT dalam membumikan sastra di tengah masyarakat.
Sastrawan kelahiran Tegal, Kurnia Effendi, menilai bahasa daerah Tegal memiliki daya pikat tinggi dan keunikan tersendiri sebagai media perantara karya sastra pesisir.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


