Sejarah Tersembunyi Pasar Pagi Tegal dan Jejak Sumur Kuno Bupati Kaloran
SEJARAH - Sumur kuno Mbah Kaloran di Pasar Pagi Kota Tegal saksi bisu kejayaan pusat pemerintahan Tegal di masa lalu. -dok. radartegal.com-
TEGAL, radartegal.com - Sumur kuno peninggalan era kolonial berdiri terasing di tengah hiruk-pikuk aktivitas pedagang Pasar Pagi Kota Tegal. Rezeki ekonomi memang berputar di sana, tetapi rekam jejak sejarah kawasan Sentanan ini justru berdebu dan nyaris terlupakan.
Situs tua tersebut menjadi bukti otentik perkembangan wilayah Tegal jauh sebelum era pemisahan administrasi kota dan kabupaten. Kondisi fisik cagar budaya bernilai historis tinggi ini kian memprihatinkan dari hari ke hari.
Ringkasan Cepat
- Lokasi Situs: Berada di sudut area Pasar Pagi Kota Tegal (kawasan Jalan Kaloran/Sentanan).
- Asal-usul: Peninggalan Bupati Tegal ke-10, Raden Mas Panji Cakranegara (Mbah Kaloran), yang bertakhta periode 1800–1816.
- Kondisi Saat Ini: Terbengkalai, berdebu, tidak terawat, dan dikelilingi sarang laba-laba.
- Satu-satunya Peninggalan: Menjadi tersisa dari kompleks bekas pendapa pusat pemerintahan yang kini telah berubah menjadi pasar tradisional.
- Kepercayaan Lokal: Sebagian warga menganggap air sumur keramat dan kerap menggunakannya sebagai sarana pengobatan alternatif.
Jejak Pusat Pemerintahan Tegal Masa Lalu
Kawasan yang kini padat oleh lapak Pasar Pagi dahulu merupakan pusat pemerintahan Tegal. Penanda sejarah ini ditegaskan oleh tokoh warga Sentanan, Muhammad Husni Tamhrin atau Slamet (79).
BACA JUGA:Pererat Ikatan Sejarah, Momentum Ziarah ke Makam Bupati Kendal di Tegal Jadi Teladan
BACA JUGA:Menguak Misteri Situs Watu Lumpang Balapulang Tegal, Jejak Sejarah yang Tersembunyi di Hutan Jati
Slamet mengonfirmasi bahwa sumur kuno tersebut dibangun pada masa kepemimpinan Raden Mas Panji Cakranegara. Warga lokal lebih mengenal Bupati Tegal ke-10 yang bertakhta periode 1800–1816 ini dengan julukan Mbah Kaloran atau Bupati Kaloran.
Dahulu, kompleks ini berdiri megah lengkap dengan bangunan pendapa kabupaten. Perubahan tata kota membuat kompleks pendapa tersebut akhirnya dibongkar total.
Lokasi ini sempat difungsikan sebagai kantor Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Tegal sebelum berganti menjadi pasar tradisional. Tiang penyangga utama atau blandar pendapa kini dipindahkan ke kompleks pemakaman Mbah Kaloran di Desa Semedo, Kecamatan Kedungbanteng.
Alhasil, sumur tua ini menjadi satu-satunya struktur fisik peninggalan Mbah Kaloran di Sentanan yang tersisa dari perombakan era modern.
BACA JUGA:Mengulik Tembok Luwung, Benarkah Kunci Awal Sejarah Tegal Tersembunyi di Sini?
BACA JUGA:Jasirah Heritage Cycling 2026: Geliatkan Wisata Sejarah Jateng
Fisik Terbengkalai di Antara Riuk Pasar
Pantauan langsung di lokasi memperlihatkan kondisi sumur kuno yang sangat memprihatinkan. Dinding bata merah yang menyusun sumur tampak mengusam tergerus usia. Akses menuju bibir sumur hanya dibatasi sebuah pintu besi bercat biru.
Katrol besi penimba air masih menggantung di bagian atas, tetapi kondisinya sudah karatan. Balok kayu penyangga di sekitarnya diselimuti debu tebal dan sarang laba-laba.
Situs sejarah ini tampak tak tersentuh perawatan khusus layaknya benda cagar budaya berharga.
Khasiat Air Sumur Kuno Mbah Kaloran
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:


