Penolakan LGBT di Comal Pemalang Mencuat Pasca-Penggerebekan di Dusun Serdadi

Penolakan LGBT di Comal Pemalang Mencuat Pasca-Penggerebekan di Dusun Serdadi

LGBT - Spanduk penolakan LGBT terpasang di salah satu gang di Dusun Serdadi, Comal, Pemalang.-Mukhtarom/ Diswayjateng.id/ Radar Tegal Grup-

PEMALANG, radartegal.com – Gelombang penolakan LGBT di Comal, Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, kian mencuat pasca-peristiwa penggerebekan sepasang pria yang diduga melakukan aktivitas sejenis di Dusun Serdadi, Kelurahan Purwoharjo, Minggu malam, 5 Juli 2026.

Sehari setelah kejadian, masyarakat setempat serentak memasang berbagai spanduk bernada protes di sejumlah titik strategis guna membentengi wilayah mereka dari perilaku yang dinilai menyimpang.

Berdasarkan pantauan di lapangan pada Selasa sore, 7 Juli 2026, spanduk-spanduk tersebut terpasang mulai dari pintu masuk gang, tepi jalan utama, hingga area pemukiman warga. 

Pesan yang disampaikan cukup beragam; sebagian besar berupa ajakan menjaga norma lingkungan, namun beberapa di antaranya memuat kalimat peringatan yang tegas.

BACA JUGA:Apel Gelar Pasukan Satlinmas Digelar, Bupati Pemalang Tekankan Pilkades Damai dan Kondusif

BACA JUGA:Mukerda MUI Kabupaten Pemalang Resmi Dibuka

Pihak pemuda Dusun Serdadi diketahui bergerak memasang atribut tersebut pada Senin malam, 6 Juli 2026, sekitar pukul 23.00 hingga 24.00 WIB sebagai bentuk respons cepat atas keresahan warga.

"Yang pasang pemuda-pemuda sini, sekitar sini. Harapannya semoga kampung ini bisa jauh dari hal-hal seperti itu yang tidak diinginkan," ungkap Ema Musiam (46), salah seorang warga setempat yang mengkhawatirkan masa depan generasi muda di wilayahnya.

Dampak Sosial dan Antisipasi Penolakan LGBT di Comal

Menyikapi eskalasi massa dan pemasangan spanduk penolakan LGBT di Comal tersebut, Pemerintah Kelurahan Purwoharjo langsung mengambil langkah persuasif. 

Lurah Purwoharjo, Sugeng Sugiharto, meminta seluruh lapisan masyarakat untuk mengedepankan hukum dan menjaga kondusivitas wilayah agar tidak terseret ke arah tindakan anarkis.

BACA JUGA:SMK Satya Praja 2 Petarukan Pemalang Dukung Siswa Ikuti Tes Fisik dan MCU PT Astra Group

BACA JUGA:Truk Bermuatan Solar Terguling di Tanjakan Bayeman Belik Pemalang, Lalu Lintas Sempat Macet

Sugeng menekankan pentingnya menyikapi konflik sosial ini dengan kepala dingin tanpa mengabaikan sisi kemanusiaan. Menurutnya, main hakim sendiri hanya akan memicu masalah baru yang merugikan lingkungan.

"Walaupun bagaimana, kita sesama manusia harus saling menghormati dan saling menghargai. Mudah-mudahan nanti ada jalan keluar untuk menyelesaikan masalah yang sedang dihadapi saat ini," ujar Sugeng.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: