Tembus Omzet Rp100 Juta, Desa Wisata Pasar Slumpring Jadi Magnet Liburan

Tembus Omzet Rp100 Juta, Desa Wisata Pasar Slumpring Jadi Magnet Liburan

PASAR SLUMPRING - Sejumlah pengunjung saat membeli jajanan tradisional di Pasar Slumpring Desa Wisata Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, Minggu 5 Juli 2026.-Yeri Noveli-

BUMIJAWA, radartegal.com– Momentum hari terakhir liburan sekolah dimanfaatkan oleh ribuan masyarakat untuk memadati berbagai destinasi pelesiran alam di wilayah dataran tinggi kaki Gunung Slamet. Desa Wisata Pasar Slumpring yang terletak di Desa Cempaka, Kecamatan Bumijawa, Kabupaten Tegal, menjadi salah satu pusat konsentrasi massa yang paling ramai pada Minggu 5 Juli 2026 pagi.

Wisatawan domestik sengaja berbondong-bondong menyerbu area hutan bambu rindang ini demi berburu kuliner tradisional lawas serta menikmati atmosfer pedesaan yang sejuk. Lonjakan arus kunjungan di Desa Wisata Pasar Slumpring kali ini tercatat menembus angka di atas seribu orang pelancong dalam satu hari operasional.

Menariknya, sebaran asal daerah para pelancong tidak hanya didominasi oleh warga lokal Tegal dan Slawi saja. Kelompok pelancong terdeteksi datang dari berbagai kota satelit di sekitarnya, mulai dari Kabupaten Brebes, Pemalang, kawasan industri Bumiayu, hingga rombongan keluarga asal Cirebon, Jawa Barat, yang hendak menutup masa liburan sekolah.

Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Wisata Pasar Slumpring, Abdul Khayi, membenarkan bahwa perputaran uang di dalam ekosistem wisata desa tersebut mengalami grafik kenaikan yang sangat tajam. Tingginya antusiasme belanja para turis menjadi berkah ekonomi tersendiri bagi puluhan perajin makanan tradisional dan pelaku UMKM lokal yang menggantungkan pencaharian di area lereng pegunungan tersebut.

BACA JUGA: 5 Desa Wisata Populer di Jawa Tengah Ini Penduduknya Punya Kebiasaan Unik

BACA JUGA: 7 Wisata Pasar Unik di Jawa Tengah 2025, Salah Satunya Pasar Slumpring Tegal

"Hari Minggu ini merupakan momen puncak dari liburan sekolah, sehingga jumlah pengunjung meledak drastis. Perputaran uang dari transaksi penjualan tiket masuk dan aneka kuliner khas di Desa Wisata Pasar Slumpring hari ini tercatat mampu menyentuh angka Rp80 juta hingga Rp100 juta dalam sehari. Pada hari Minggu biasa, jumlah kunjungan kami umumnya stabil di kisaran 700 orang," papar Abdul Khayi dengan penuh rasa syukur.

Eksistensi destinasi berbasis ekonomi kerakyatan ini sebenarnya bukan barang baru, melainkan telah kokoh berdiri sejak September 2016 dan kini bersiap merayakan satu dekade atau usia 10 tahun perjalanannya.

Di atas lahan seluas satu hektare, pengelola menyediakan 40 unit lincak (lapak bambu) kuliner. Uniknya, pengelola menerapkan tiga pilar regulasi lokal yang wajib dipatuhi:

  • Larangan Makanan Luar: Wisatawan dilarang keras membawa bekal makanan dari luar untuk menjaga keberlangsungan omzet pedagang lokal Desa Cempaka.
  • Sistem Transaksi Koin: Alat pembayaran sah tidak menggunakan uang tunai langsung, melainkan wajib ditukar dengan koin bambu khusus bernilai Rp2.500 per keping.
  • Menu Alami Non-Instan: Seluruh makanan tradisional seperti nasi jagung, blendung, tiwul, gaplek, cucur, hingga pecel wajib diolah tanpa bahan instan pengawet.

BACA JUGA: Jelajahi 6 Desa Wisata di Bantul Yogyakarta: Liburan Edukatif Penuh Budaya

BACA JUGA: Rekomendasi Desa Wisata di Purbalingga dari Petik Stroberi hingga Arung Jeram

Tidak sebatas memanjakan lidah lewat kuliner tempo dulu, destinasi Desa Wisata Pasar Slumpring juga menghidupkan kembali khazanah permainan tradisional anak zaman dahulu seperti egrang bambu, gangsing, hingga rangku alu. Bagi pelancong yang mendambakan petualangan fisik, pengelola menyediakan wahana flying fox serta perahu bebek kayuh di atas kolam mata air alami yang jernih dan segar.

Salah seorang pelancong asal Kota Tegal, Dewi Prima Mayasari (40), mengaku langsung jatuh hati pada kunjungan pertamanya. Menurutnya, konsep transaksi menggunakan koin bambu yang dapat ditukarkan kembali (*refund*) memberikan pengalaman berbelanja yang unik, aman, dan sangat ramah di kantong karena sebagian besar jajanan dibanderol di bawah nominal Rp10.000, menjadikannya tempat ideal untuk melepas penat di akhir pekan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait