Musim Kemarau, Petani di Brebes Manfaatkan Sumur Bor untuk Aliri Lahan

Musim Kemarau, Petani di Brebes Manfaatkan Sumur Bor untuk Aliri Lahan

Meski masih berada di musim kemarau, sejumlah petani di Kabupaten Brebes sudah ada yang menanam tanaman bawang merah.(istimewa)--

BREBES, radartegal.com - Meski masih berada di musim kemarau, sejumlah petani di Kabupaten Brebes sudah ada yang menanam tanaman bawang merah. Meskipun, untuk mengaliri tanaman bawang merah menggunakan sumur bor yang dibuat oleh mereka.

Seperti yang dilakukan oleh petani di petani wilayah Kecamatan Wanasari. Mereka harus mencari sumber air sendiri untuk menyelamatkan tanaman bawang merah yang baru berusia sekitar satu hingga dua pekan.

Bukan tanpa biaya. Petani terpaksa membuat sumur bor dangkal dan mengoperasikan pompa berbahan bakar diesel untuk mengalirkan air ke lahan. Kondisi tersebut membuat ongkos produksi ikut membengkak.

Setiap kali pompa dioperasikan, petani sedikitnya harus mengeluarkan sekitar Rp50 ribu hanya untuk membeli bahan bakar. Padahal, tanaman bawang merah yang baru ditanam membutuhkan penyiraman secara rutin agar pertumbuhannya tidak terganggu.

BACA JUGA: Bawang Merah Siap Panen Dicuri, Petani di Brebes Merugi

BACA JUGA: 18.874 Jiwa Warga Terdampak Kekeringan di Brebes, 611 Ribu Liter Air Bersih Digelontorkan

"Air di irigasi maupun di embung sudah habis, jadi kami kesulitan air dan harus pakai pompa diesel dari sumur bor untuk menanam. Ongkosnya banyak sekali, satu kali penyiraman bisa sampai Rp50.000 dengan jadwal dua hari sekali, bahkan tiap hari kalau airnya lagi banyak," kata kata Ardi, petani bawang merah, Kamis 1 Oktober 2026.

Dia melanjutkan, jika tidak ada hujan terus-menerus seperti ini, total biaya operasional menggunakan pompa sampai panen bisa mencapai Rp2 juta. Biaya otomatis bertambah, sehingga sangat khawatir harga jual hasil panen murah. Untuk sumber lain, air masih ada, namun ada pengeringan yang baru mulai mengalir lagi tanggal 15 Oktober setelah dua bulan dikeringkan. 

"Sudah beberapa bulan tidak turun hujan, jadi untuk kebutuhan tanam harus pakai pompa terus sampai ada hujan. Keinginan saya kepada pemerintah ya supaya irigasinya bisa tetap mengalir, meskipun sedang musim kemarau." kata Ardi. 

Kondisi lahan yang kering membuat petani harus mengubah pola penyiraman. Jika dalam kondisi normal tanaman disiram setiap pagi dan sore, keterbatasan air membuat penyiraman terpaksa dilakukan lebih jarang, bahkan sekitar dua hari sekali. Langkah tersebut dilakukan bukan karena kebutuhan tanaman berkurang, melainkan karena petani kesulitan mendapatkan air.

BACA JUGA: Kekeringan di Brebes Selatan Melanda 13 Desa di Empat Kecamatan

BACA JUGA: Tanggap Kemarau Panjang di Tegal, 29 Ribu Warga Dapat Bantuan Air

Tanaman bawang merah sendiri masih jauh dari masa panen. Umumnya, tanaman baru dapat dipanen ketika berusia sekitar 60 hari. Artinya, petani masih harus menjaga tanaman selama berminggu-minggu ke depan dengan kondisi sumber air yang belum pasti. Sumur bor dan pompa diesel akhirnya menjadi pilihan untuk mempertahankan tanaman tetap hidup. Namun, pilihan itu sekaligus menambah beban modal yang harus dikeluarkan petani.

"Saluran irigasi di sini tidak ada airnya dan kering semua, embung juga sudah habis, jadi airnya terpaksa diambil dari sumber menggunakan mesin pompa. Dampaknya, biaya operasional penanaman pasti nambah karena harus menyedot air pakai mesin, di mana waktu penanaman saja ongkosnya bisa mencapai Rp1,5 juta untuk satu petak," kata petani bawang merah lain, Sohari. 

Dia melanjutkan, kesulitan air ini sudah dirasakan sejak awal mulai penanaman. Menurut dia, di wilayahnya banyak petnai yang sedang menanam bawang sampai beberapa hektar, dengan usia tanaman yang bervariasi seperti punya saya yang baru lima hari dan lahan sebelah sekitar seminggu. 

Persoalan petani tidak berhenti pada ketersediaan air. Di tengah biaya produksi yang meningkat, petani juga dibayangi ketidakpastian harga bawang merah ketika masa panen tiba. Harga komoditas tersebut kerap berubah mengikuti kondisi pasokan dan permintaan. 

BACA JUGA: Musim Kemarau Tiba, Tim Gabungan Siaga Total Antisipasi Kebakaran Lahan di Kota Tegal

BACA JUGA: Anggota DPRD Dukung Upaya Kesiapsiagaan Musim Kemarau oleh Pemkab Brebes

Ketika panen raya berlangsung, melimpahnya produksi dapat membuat harga di tingkat petani tertekan. Situasi itu menjadi kekhawatiran tersendiri bagi petani yang saat ini harus mengeluarkan biaya tambahan untuk mendapatkan air. Modal bertambah, tetapi harga jual ketika panen belum tentu mampu mengikuti kenaikan biaya produksi.

Petani pun berharap pemerintah daerah segera turun tangan menangani persoalan air, terutama dengan memastikan ketersediaan sumber air untuk lahan pertanian. Mereka juga berharap ada langkah untuk menjaga stabilitas harga bawang merah ketika panen mendatang.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait